Senin, 19 Januari 2026

Meski Suriah Sudah Damai, Sisa SDF Dilaporkan Balas Dendam ke Suku Al Baggara

Kawasan Al-Hasakah di Suriah kembali menjadi sorotan setelah laporan-laporan di media sosial menyebut adanya kekerasan yang dilakukan oleh sisa pasukan Syrian Democratic Forces (SDF) terhadap suku Al-Baggara. Insiden ini diklaim terjadi usai gencatan senjata oleh pemerintah Suriah dan SDF terutama di desa-desa barat laut hingga barat Hasakah, termasuk Tal Majdal dan Al-Ashara, dengan korban sipil yang disebut mencapai lebih dari seratus orang. Hasakah belum sepenuhnya dikuasai pemerintah dan aparat SDF masih ada.

Postingan di X (dulu Twitter) menggambarkan kekerasan ini sebagai pembalasan SDF setelah mengalami kekalahan di wilayah lain, terutama Raqqa dan Deir ez-Zor. Banyak anggota suku Al-Baggara disebut bergabung dengan pasukan pemerintah Suriah, sehingga konflik lokal dan balas dendam diduga meningkat.

Di Tal Majdal, laporan mengklaim adanya penargetan warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan. Korban yang disebut termasuk seorang anak bernama Dahham AlRashu dan anggota keluarga Hussein al-Alawi. Beberapa warga dilaporkan ditangkap, rumah-rumah dibakar, dan ketegangan meningkat di antara penduduk desa.

Sementara itu, di Al-Ashara, situasi juga memanas. Protes warga disebut ditembaki oleh SDF, dengan korban sipil, pembakaran rumah, dan ketakutan meluas di masyarakat lokal. Kedua desa ini menjadi contoh paling sering disebut sebagai lokasi utama insiden, meski klaim jumlah korban masih belum bisa diverifikasi oleh sumber internasional.

Jumlah korban yang dikabarkan dari berbagai posting mencapai lebih dari 120 orang, termasuk pria, wanita, dan anak-anak. Namun, sampai saat ini, angka ini masih berdasarkan laporan lokal dan akun pro-pemerintah Suriah atau anti-SDF, sehingga kemungkinan masih bisa berubah atau merupakan propaganda.

Kejadian ini terjadi di tengah gencatan senjata. Presiden Ahmed Al Sharaa meminta semua pihak untuk meletakkan senjatan. 

Sebelumnya, pasukan suku Arab yang bergabung dengan pemerintah Suriah telah bertempur melawan SDF untuk menguasai wilayah-wilayah di sebelah timur Sungai Efrat, termasuk daerah kaya minyak di Deir ez-Zor.
Selain insiden di Hasakah, bentrokan juga tercatat di Aleppo awal Januari 2026, menyebabkan ribuan warga mengungsi dan menimbulkan korban sipil. Perseteruan ini menunjukkan eskalasi kekerasan yang melibatkan berbagai kelompok bersenjata, termasuk milisi suku dan pasukan pemerintah Suriah. Situasi ini diperkirakan mirip dengan pembantai warga Arab oleh misili Druze Al Hajri pro Israel usai rejim Assad lengser.

Meski gencatan senjata sudah diumumkan, banyak sempalan SDF yang belum bersedia menerima kesepakatan itu.

Gencatan senjata diumumkan pada 18 Januari 2026, tetapi dugaan pelanggaran dilaporkan di kedua pihak. Ketegangan tetap tinggi karena wilayah tersebut memiliki nilai strategis, baik secara politik maupun ekonomi, terutama di dekat ladang minyak dan jalur transportasi penting.

Suku Al-Baggara, yang menjadi korban utama laporan ini, memiliki sejarah panjang dalam dinamika konflik lokal. Sebagian kelompoknya pernah bekerja sama dengan berbagai faksi, termasuk milisi yang didukung Iran, sehingga posisi mereka di tengah konflik seringkali kompleks.

Kekerasan yang dilaporkan di Tal Majdal dan Al-Ashara dianggap sebagai bagian dari pola balas dendam SDF setelah kekalahan mereka di wilayah lain. Korban sipil, termasuk anak-anak, menunjukkan risiko tinggi bagi masyarakat non-combatant di zona konflik.

Sementara itu, pemerintah Suriah menegaskan kontrolnya atas wilayah yang baru dibebaskan, mengingat pentingnya menjaga administrasi lokal dan layanan publik, tapi itu di Raqqa dan Deir Ezzour bukan di Hasakah. Pejabat lokal yang masih menjabat berperan penting untuk menjaga kontinuitas layanan meski situasi keamanan masih rapuh.

Insiden ini juga menimbulkan protes terhadap kehadiran basis militer asing di Hasakah, termasuk pangkalan AS, yang semakin memperumit situasi keamanan dan sosial. Ketegangan antara penduduk lokal dan kelompok bersenjata asing terus menjadi sumber kerentanan di kawasan ini.

Media internasional besar, seperti Al Jazeera, hingga kini belum mengonfirmasi jumlah korban atau detail insiden, sehingga klaim yang beredar tetap harus dipandang sebagai laporan awal dan belum diverifikasi sepenuhnya.

Para analis menyebutkan bahwa informasi yang cepat tersebar di media sosial bisa menjadi bagian dari propaganda konflik, di mana pihak-pihak yang terlibat mencoba memengaruhi opini publik dan legitimasi politik di wilayah yang diperebutkan.

Kawasan barat laut Hasakah tetap menjadi titik panas karena nilai strategisnya dan sejarah bentrokan antara SDF dan suku Arab yang loyal ke pemerintah. Wilayah ini juga menjadi jalur logistik dan titik ekonomi penting yang memengaruhi kontrol wilayah di timur Suriah.

SDF menghadapi tekanan dari dua sisi: pasukan pemerintah yang didukung suku lokal dan masyarakat sipil yang ingin kembali ke kondisi normal. Ketegangan ini memicu tindakan keras yang diklaim menargetkan warga sipil, meski verifikasi independen masih terbatas.

Gubernur provinsi Deir Ezzour menegaskan dukungan terhadap pejabat lokal dan mengingatkan pentingnya layanan publik. Hal ini menunjukkan pemerintah Suriah berupaya mengintegrasikan kembali wilayah yang baru dibebaskan ke dalam struktur administratif resmi.

Meski gencatan senjata sudah diumumkan, risiko eskalasi tetap tinggi. Pelanggaran lokal bisa memicu bentrokan baru, terutama di desa-desa kecil yang sebelumnya berada di bawah kontrol SDF dan kini kembali ke pemerintah pusat.

Situasi di Hasakah menjadi contoh ketegangan etnis dan politik yang lebih luas di timur Suriah, di mana konflik antara kelompok Kurdi, suku Arab, dan pasukan pemerintah terus berlangsung.

Pengamat menekankan perlunya pemantauan independen untuk memastikan keselamatan warga sipil dan mencegah pembalasan yang bisa memperburuk konflik. Informasi yang beredar di media sosial perlu diverifikasi sebelum dijadikan dasar kebijakan atau tindakan lebih lanjut.

Kejadian ini menunjukkan kompleksitas konflik Suriah modern, di mana identitas suku, kepentingan politik lokal, dan dinamika militer saling terkait, dan warga sipil sering menjadi korban utama di tengah pertarungan kekuasaan.

Meskipun informasi masih berkembang, laporan awal ini menjadi peringatan bagi komunitas internasional tentang risiko tinggi bagi warga sipil di zona konflik dan perlunya mekanisme perlindungan yang efektif, terutama di wilayah yang baru direintegrasikan ke kontrol pemerintah Suriah.

marbun

Author & Editor

Please don't hesitate to contact us via email: redaksi.dekho@gmail.com, we are looking forward to wait for your suggestion for improving of our business..

0 komentar:

Posting Komentar